Gajah Mada “Perang Bubat”

Judul: Gajah Mada “Perang Bubat”
Penulis: Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

2013-11-19 07.31.38

20 tahun setelah Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa, hampir seluruh Nusantara telah berhasil disatukan dengan bendera Gula Kelapa. Akan tetapi justru ada dua kerajaan di wilayah Jawa bagian Barat yang belum menyatakan bergabung dengan Majapahit, yaitu Kerajaan Sunda Pakuan dan Sunda Galuh.
Gajah Mada yang merasa hubungan dagang antara kedua kerajaan Sunda dengan negara Cina dapat membahayakan kesatuan Nusantara, tidak pernah berhenti untuk mengajak kedua kerajaan itu untuk segera bersatu menjadi kerajaan besar. Akan tetapi permintaan itu selalu ditolak secara halus oleh Maharaja Linggabuana, karena penyatuan apapun itu namanya adalah sebuah penjajahan.
Berbeda dengan Gajah Mada yang keras, kedua Mantan Prabu justru ingin menyatukan kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh melalui sebuah perkawinan antara Prabu Hayam Wuruk dengan Sekar Kedaton Sunda Dyah Pitaloka Citraresmi. Hal ini disabut baik oleh kerajaan Sunda, karena dengan perkawinan itu, maka kelak Raja Majapahit adalah keturunan Sunda juga.
Setelah berbagai proses lamaran serta kesepakatan dari kedua pihak, maka acara pernikahan akan dilaksanakan di istana Kotaraja Trowulan Majapahit. Namun akibat kesalahpahaman yang terjadi antara para pendukung Gajah Mada, terjadilah peristiwa perang Bubat yang sampai sekarang menjadi sebuah tragedi yang sulit untuk dilupakan bagi sebagian orang Sunda. Seluruh rombongan Sunda terbunuh dilapangan Bubat, termasuk Maharaja Linggabuana, Dewi Laraningsih (Permaisuri), serta Sekar Kedaton Dyah Pitaloka Citraresmi.
Hasil dari tragedi Bubat ini adalah Gajah Mada tidak pernah bisa menyelesaikan sumpahnya untuk menyatukan seluruh Nusantara, karena kerajaan Sunda tidak pernah diakui sebagai negara bawahan Majapahit, walaupun secara Maritim Majapahit menguasai seluruh lautan Nusantara. Serta dipecatnya Gajah Mada dari kursi Mahapatih Majapahit, membuat kerajaan besar ini berangsur-angsur menurun.
Sebuah cerita yang sangat sensitif ini disajikan dengan begitu lembut, tragedi Bubat diceritakan dengan sangat cepat untuk menghindari kesalahpahaman pembaca. Namun latar belakang terjadinya kesalahpahaman ini dijalaskan dengan cukup rinci, agar pembaca lebih memahami peristiwa ini. Walaupun banyak peristiwa dalam novel ini yang patut dipertanyakan kebenarannya, tapi perlu dipahami ini hanyalah sebuah novel sejarah, sehingga memang banyak hal yang sengaja ditambahkan oleh penulis agar novel ini menjadi lebih menarik.

Advertisements

Gajah Mada “Hamukti Palapa”

Judul: Gajah Mada “Hamukti Palapa”
Penulis : Langit Kresna Hariadi
Penerbit: Tiga Serangkai

2013-10-28 07.16.10

Pada masa pemerintahan Prabu kembar yaitu Prabu Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani serta Prabu Putri Rajadewi Maharajasa, kemarau panjang yang menimpa sebagian besar wilayah majapahit,hal ini membuat terjadinya berbagai kesulitan yang dialami warga. Di masa-masa yang sulit ini istana mengalami kecurian dua benda pusaka yaitu: Payung Kiai Udan Riwis dan Cihna Gringsing Lobheng Lewih Laka. Payung Kiai Udan Riwis merupakan payung bertingkat yang digunakan untuk mewisuda Raja sejak jaman Singosari. Sedangkan Cihna merupakan lambang negara Majapahit yang pertama dibuat atas perintah Raden Wijaya, Cihna tersebut memiliki motif batik dengan buah maja yang bersinar ditengahnya.

Senopati Gajah Enggon yang merupakan pimpinan pasukan Bhayangkara, menjadi orang yang paling bertanggungjawab terhadap hilangnya kedua pusaka tersebut. Dengan kesadaran tinggi, dia pun mengundurkan diri dari jabatan pimpinan pasukan Bhayangkara agar dapat fokus untuk mencari kedua pusaka kerajaan yang telah hilang. Ditemani oleh sahabatnya yang mantan Bhayangkara Pradabashu, perjalanan keduanya menjadi petuanganan menarik dalam novel ini.
Ditempat yang lain, salah satu wilayah bawahan Majapahit yaitu Keta dan Sadeng justru sedang mempersiapkan pasukan yang besar untuk melakukan makar. Atas informasi dari telik sandi Bahayangkara, serta diperkuat oleh Gajah Enggon dan Pradabashu, Gajah Mada yang saat itu menjabat sebagai patih kecil di Majapahit pun mempersiapkan penyerangan terhadap kedua daerah tersebut. Dibantu pasukan yang datang dari Swarnabhumi, dalam waktu yang singkat pemberontakan di Keta dan Sadeng pun berhasil ditumpas.

Atas jasa Gajah Mada dalam menumpas pemberontakan Keta dan Sadeng, dia pun diangkat menjadi Mahapatih Amangkubumi Majapahit menggantikan Arya Tadah. Dalam acara wisuda itulah Gajah Mada mengucapkan sumpah yang menjadi legenda sampai sekarang, sumpah untuk tidak menikmati dunia sampai seluruh Nusantara bersatu dalam satu bendera Gula Kelapa (Merah Putih). Sumpah yang menjadi cikal bakal persatuan Nusantara dan Indonesia.

Novel ini merupakan novel ketiga dari lima novel seri Gajah Mada, latar dari novel ini adalah kondisi Majapahit pada masa pemerintahan Prabu Kembar yaitu Prabu Putri Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani serta Prabu Putri Rajadewi Maharajasa. Dimana pada saat itu terjadi berbagai bencana alam yakni kemarau panjang, gempa bumi dan gunung meletus. Serta terjadi peristiwa pemberontakan Keta dan Sadeng.

Bagaimana Gajah Mada mengatur serangan terhadap Keta dan Sadeng digambarkan dengan sangat detail. Lalu kisah perjalanan Senopati Gajah Enggon dan Pradabashu dalam mencari dua benda pusaka menjadi petualangan yang seru.
Serta tentunya detik-detik saat Gajah Mada mengucapkan sumpah Palapa. Sehingga pembaca akan memahami apa yang menjadi latar belakang Gajah Mada dan Majapahit untuk memimpikan persatuan Nusantara.

  • Categories

  • Arsip

  • Recent Posts

  • Meta

  • Blog Stats

    • 30,985 hits
  • Advertisements